Jurnalisme Data - ANGKA GOLPUT CERMINAN KUALITAS BANGSA
ANGKA
GOLPUT CERMINAN KUALITAS BANGSA
Tahun
2018 merupakan tahun politik bagi Indonesia. Dimana akan ada beberapa
pelaksanaan pemilu yang sudah di depan mata. Antara lain seperti Pilpres dan
Pilkada. Pemilu tidak lepas dari partisipasi
masyarakat, yaitu memberi hak pilih dengan cara mencoblos di TPU. Suara
masyarakat menentukan siapa yang akan memimpin daerahnya selama 5 tahun
kedepan. Namun sayang, masih banyak masyarakat tidak menggunakan hak
pilihnya. Istilah ini disebut dengan golput atau golongan putih. Perlu kita
ketahui bahwa istilah golput muncul pada tahun 1971 dan dipelopori oleh
kalangan mahasiswa dan pemuda. Tindakan ini sebagai suatu aksi protes kepada
pemerintahan yang tidak demokratis. Lalu, bagaimana dengan golput di zaman now ini ?
Data diatas menunjukkan bahwa angka golput terus meningkat dari tahun
ke tahun. Puncak kenaikan golput terjadi pada pilkada 2015. Hal ini disebabkan
oleh meningkatnya kasus-kasus korupsi di Indonesia yang dilakukan oleh
pejabat-pejabat tinggi. Selain itu banyak janji-janji para pemimpin yang tidak
direalisasikan membuat sebagian masyarakat semakin enggan memberikan hak
suaranya dalam pemilu.
Berkilas dari pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu,
angka golput bahkan lebih tinggi daripada perolehan suara pasangan cagub Agus
Yudhoyono dan Sylviana Murni. Hasil pilkada DKI melalui real count KPU, menunjukkan 23 % atau
sekitar 1.668.902 penduduk memilih untuk golput. KPU pun mengadakan pilkada
putaran kedua untuk menentukan hasil akhirantara kedua pasangan cagub
Anies-Sandi dan Ahok Djarot. Putaran kedua dilaksanakan untuk
memberikan kesempatan pada kalangan golput yang masih memiliki hak untuk memilih.
4 dari 7 orang mengaku pernah melakukan
golput ketika pemilu berlangsung. 7 orang
tersebut terdiri dari mahasiswa rantau. Tiga orang diantaranya beralasan tidak bisa
pulang ke kampung halaman. Kemudian satu orang beralasan malas untuk mencoblos
karena hasilnya akan sama saja. Kepercayaan terhadap pemilu menurun karena
janji para calon hanyalah janji semata. Perlu kita ketahui, ini berarti bahwa
setengah dari mereka lebih memilih untuk tidak memberikan suara atau hak
pilihnya bagi masa depan Indonesia. Mengapa ? Karena hilangnya satu suara sama
dengan hilangnya satu partisipasi masyarakat untuk memilih siapa pemimpin
terbaik bagi bangsa ini.
Dari data-daat diatas, menunjukkan bahwa tingginya angka golput masih menjadi
permasalahan di Indonesia. Berbeda dengan masa 1971, latar belakang masyarakat untuk tidak memberikan hak pilihnya sangat beragam di
zaman kini, terutama pemuda seperti mahasiswa. Beberapa penyebab ini
mempengaruhi tingkat kepercayaan / pemahaman masyarakat akan politik sehingga
enggan memberikan hak suara pada pemilu. Diantara lain yaitu :
1. Kurangnya pemahaman mengenai partisipasi politik
2. Tidak mengenali pasangan yang akan mencalonkan diri
3. Merasa bosan dengan janji-janji pemimpin yang tidak dijalankan
4. Maraknya kasus korupsi yang menyeret sejumlah pejabat tinggi
5. Tidak ada perubahan yang signifikan selama masa kepemimpinan
6. Pemikiran bahwa hasil suara akan didominasi para simpatisan, bukan
berdasarkan prestasi / aksi nyata pasangan calon
Berdasarkan beberapa penyebab diatas secara tidak langsung
menimbulkan sikap apatis pada pemuda terhadap politik di pemerintahan
Indonesia. Politik dianggap sebelah mata dan tidak penting, sehingga lebih
memilih kegiatan-kegiatan yang lebih asyik dan tidak berfikir berat. Inilah
sikap salah yang sebenarnya terjadi. Segala isu perpolitikan / pemerintahan di
Indonesia menjadi terkesan buruk dan politik bukanlah hal yang menarik untuk
dilakukan. Sesungguhnya, segala kekacauan yang terjadi bukanlah kesalahan
politik melainkan para pelaku politik yang akhirnya membuat pelaksaan politik
melawan arus.
Selain itu, terdapat satu penyebab yang membuat masyarakat tak
memberikan hak pilihnya. Yaitu karena tidak sedang berada di wilayahnya (
Pendidikan / pergi ke luarkota dan luar negeri ). Waktu yang tidak tepat serta
biaya yang tidak murah menjadi alasan bagi beberapa orang untuk tidak pulang ke
kotanya saat pemilu. Dapat dikatakan bahwa hal ini dianggap sebagai hal wajar atau bukan hal
yang salah. Saat ini sistem pemilu Indonesia masih
menggunakan sistem langsung, dimana masyarakat harus datang langsung ke TPA
untuk memberikan suaranya. Sehingga masyarakat yang sedang ada di luar
wilayahnya tidak dapat memberikan suara.
Maka dari itu perlu adanya cara untuk membenahi hal tersebut. Jika
angka golput dibiarkan meningkat setiap tahunnya, kualitas politik di Indonesia
juga akan menurun. Suara yang terkumpul bukanlah suara dari kesulurahan
masyarakat secara
dan pengetahuan politik yang minim atau sikap apatis politik akan
terus bertahan. Sejatinya, demokrasi adalah dari rakyat, oleh rakyat, untuk
rakyat. Ini berarti masyarakat dari Sabang sampe Marauke harus ikut
berpartisipasi dan kritis akan politik, agar Indonesia dapat melangkah lebih
maju.
Berikut cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi angka golput.
Pertama, melalui sosialisasi dari pemerintah. Sosialisasi tersebut antara lain
mengenai politik dalam kehidupan sehari-hari, pentingnya memberikan hak suara
dalam pemilu ataupun memberikan pengetahuan tentang politik yang seharusnya
dilaksanakan di Indonesia, dll. Cara ini dilakukan agar masyarakat terutama
pemuda paham, bahwa politik adalah hal yang penting dengan memberikan contoh
kehidupan sehari-hari. Kemudian dengan adanya sosialisasi yang ringan dan
menarik, bisa meningkatkan semangat masyarakat dalam partisipasi politik,
melawan tindakan pelanggaran politik dan membangun Indonesia yang maju.
Kedua, melalui lingkungan pendidikan dengan mengadakan forum
diskusi. Forum diskusi bisa diadakan pada lingkup sekolah ataupun universitas.
Tujuannya yaitu untuk berdiskusi mengenai politik di Indonesia. Memberi ruang
untuk memberikan pendapat, mendengarkan pendapat, mencari solusi dll. Sehingga
dapat menghasilkan sikap menghargai jika ada pendapat yang berbeda, sikap
menghargai keputusan bersama.
Ketiga, keluarga. Keluarga adalah tempat dimana pengetahuan
politik pertama kali diajarkan. Orangtua harus bisa menumbuhkan sikap kritis,
taat, menghargai pada anak melalui kegiatan sehari-hari. Seperti meluangkan
waktu untuk berdiskusi masalah belajar, merancang peraturan yang harus ditepati
antara orang tua dan anak, memberi anak waktu untuk berbicara ketika melakukan
kesalahan dll. Dengan bekal ini, anak akan tumbuh baik di masyarakat. Dan
ketika bertambah umur, anak-anak bisa menyesuaikannya pada politik
pemerintahan.
Terakhir, pihak penyelanggara yaitu KPU. Agar masyarakat lebih
mengenali pasangan calon, berikan data mengenaik latar belakang serta prestasi
para pasangan calon. Kemudian melakukan inovasi pemungutan suara secara online.
Saat ini, pemilihan secara tak langsung hanya bisa dilakukan untuk warga yang
berada di luar negri pada saat Pilpres. Ini berarti, warga yang berada di luar
kota berhak mendapatkan saran untuk memberi suara secara tak langsung pada
pilpres maupun pilkada. Cara yang pertama menggunakan media online. Kedua,
membuat TPU khusus warga yang bukan asli wilayah tersebut.
Peningkatan angka golput seharusnya bisa jadi cermin untuk
mengetahui kualitas politik Indonesia. Keadaan ini tidak boleh dibiarkan terus
menerus. Jika golput selalu meningkat akan memperburuk kualitas negara ini.
Perlu adanya dukungan dari berbagai pihak seperti pemerintah, dunia pendidikan
dan keluarga untuk membuka wawasan politik dan menumbuhkan partisipasi politik.
Tak lupa, diri sendiri juga aspek terpenting. Berfikir bahwa politik tak salah
dan mau merubah keadaan Indonesia lebih baik, akan menciptakan rasa untuk
berpartisipasi dalam politik.



Comments
Post a Comment