Headline 3 Mei 2018 - Kisah Ekspatriat di Indonesia, Nikahi Artis hingga Naik Ojek
Liputan6.com, Jakarta - Pekerja asing alias ekspatriat di Indonesia dianggap identik dengan hidup nyaman, gaji tinggi, fasilitas berlimpah, penampilan necis lagi wangi. Setidaknya, itu anggapan orang kebanyakan.
Namun, dalam praktiknya, menjadi pekerja asing atau ekspatriat di Indonesia tak gampang. Banyak tantangan yang harus dihadapi. Tak jarang, mereka harus berpeluh.
"Meskipun bisa bahasa Indonesia, saya tetap orang asing. Jadi memang dibilang kesulitan juga enggak, cuma ada tantangan," ucap Michael Villareal, Wakil Direktur USP Int Indonesia, dalam sebuah perbincangan melalui telepon, Senin, 30 April 2018.
Uniknya lagi, perusahaan multinasional yang berkolaborasi dengan pemerintah Indonesia untuk pembangunan infrastruktur di bidang kelistrikan itu hanya punya satu orang pekerja asing, yaitu Michael Villareal. Ada tantangan khusus untuk pria yang karib disapa Mike ini.
Bagi Mike, untuk bisa meyakinkan warga dan pejabat pemerintah bukan perkara mudah. Sebab, masih banyak anggapan di masyarakat bahwa orang asing tidak bisa dipercaya. Oleh karena itu, Mike kerap menggunakan pendekatan personal, terutama kepada warga.
Dalam proyek di Halmahera Barat, misalnya, tugas Mike cukup berat. Dia harus meyakinkan warga tentang pembangunan tenaga listrik tenaga surya di desa. Dia tak takut kulitnya terbakar lantaran matahari di lokasi proyek lebih terik. Bahkan, Mike harus menggunakan bahasa daerah atau sekadar berbicara dengan logat serupa warga lokal.
"Persoalannya justru budaya, sebagai orang asing, bagaimana bisa dipercaya oleh pejabat daerah dan masyarakat daerah," jelas pria yang sudah beberapa tahun menjabat Wakil Direktur USP Int Indonesia.
Tahun 1994, untuk pertama kalinya Mike menginjakkan kaki di Indonesia. Kala itu dia diajak seorang rekan menjadi bagian dari perusahaan PT Harvest Internasional. Di perusahaan konsultan pemerintah yang bergerak lintas sektor ini, dia menjabat direktur marketing.
Setahun tinggal di Indonesia, dia sudah bisa berbahasa Indonesia. Namun bukan hasil kursus, melainkan karena sering berinteraksi dengan warga lokal. Utamanya sopir taksi, salah satu moda transportasi andalan Mike kala itu.
Obrolan dengan para sopir taksi itu membuat dia lebih cepat paham bahasa gaul Jakarta. Seperti mengucapkan kata 'gue' dan 'lu', bahasa gaul yang digunakan masyarakat Ibu Kota. Namun, dia pernah apes karena menganggap budaya di Amerika sama dengan di Indonesia, khususnya dalam soal sopan santun.
Mike bercerita, suatu kali dia pernah bertemu dengan salah seorang menteri. Dalam perbincangan dia kemudian menggunakan istilah dan kata yang dia pelajari dari sopir taksi. Akibatnya, dia ditegur ajudan sang menteri.
"Saya pernah didatangi ajudannya pejabat karena bicara pakai 'gue' dan 'lu'. Baru tahu setelah kejadian itu, saya enggak tahu, yang penting pakai bahasa Indonesia, karena enggak pernah kursus, belajar di jalan saja," ucap Mike.
Beberapa tahun kemudian, Mike naik jabatan. Sebagai Wakil Direktur Harvest Indonesia, otomatis pendapatan bulanannya juga naik. Mike mengatakan perusahaannya mempekerjakan warga lokal sebanyak 75 persen. Sementara sisanya merupakan orang Amerika. Setelah 11 tahun bekerja untuk Harvest, tahun 2005 Mike memutuskan mengundurkan diri.
Dia kemudian sempat berpindah-pindah perusahaan. Dia juga sempat memboyong keluarganya kembali ke Amerika. Apalagi setelah dia menikah dengan model dan penyanyi ternama Indonesia, Sophia Latjuba.
"Saya sempat pulang ke Amerika sekitar 3 tahun sampai 4 tahun setelah kawin dengan Sophia Latjuba, karena Sophie mau masuk ke dunia entertainment di Amerika sama anak-anakku mau sekolah di Amerika juga," ucap Mike.
Selanjutnya :https://www.liputan6.com/news/read/3498469/headline-kisah-ekspatriat-di-indonesia-nikahi-artis-hingga-naik-ojek?source=search
Comments
Post a Comment