Feature - Ketika Perjuangan RA. Kartini Sirna di Zaman Kekinian
“ Ibu kita kartini Putri Sejati
Putri Indonesia Harum namanya
Ibu kita Kartini Pendekar bangsa
Pendekar kaumnya Untuk Merdeka “
Siapa yang tak tahu
lagu ini ? Lagu yang diciptakan untuk seorang wanita kelahiran Jepara bernama
RA. Kartini. Wanita yang hebat pada masanya hingga zaman kini, sebab ia telah
berhasil memperjuangkan hak dan martabat wanita. Ya, wanita juga memiliki hak
yang sama dengan lelaki, wanita berhak berekspresi. Wanita berhak akan
pendidikan, wanita juga harus berakal tinggi. Wanita juga berhak memimpin bukan
hanya dipimpin. Wanita boleh mandiri, tak melulu harus manja. Tahun 2018 ini,
perjuangan RA. Kartini sudah berumur puluhan tahun. Seperti lirik lagu diatas,
pendekar kaumnya untuk merdeka. Sudahkah wanita masa kini merdeka seperti apa
yang diperjuangkan RA. Kartini?
Di era modern kini
telah marak kasus pelakor atau perebut lelaki orang. Pelakor sama istilahnya
dengan tindakan perselingkuhan, dimana ada wanita lain yang merebut suami
orang. Adanya istilah pelakor, membuktikan bahwa tak semua wanita merasakan
kemerdekaan seperti halnya yang diperjuangkan RA. Kartini. Kemerdekaan disini
adalah kemerdekaan untuk menjadi seorang wanita atau istri yang sejahtera.
Hadirnya pelakor, merusak hubungan antara sepasang suami istri. Secara tak
sadar, para pria yang terjerat pelakor telah merendahkan martabat seorang istri
atau wanita yang telah memperjuangkan segala hal. Mulai dari mengandung anak
hingga membesarkan dan juga mengurus rumah tangga. Salah satu kasus yang sempat
terkenal yaitu Bu Dendy. Seorang wanita yang menjadi korban dari pelakor.
Perselingkuhan bukanlah
permasalahan baru, namun pada akhir-akhir ini kasusnya semakin meningkat.
Beberapa penyebabnya adalah adanya rasa kurang puas, istrinya tak suka berdandan,
penghasilan lebih kecil daripada sang istri dll. Hak wanitapun menjadi sirna.
Kasus ini selalu menyebabkan perdebatan hebat hingga berujung pada perceraian.
Penghasilan lebih kecil daripada sang istri, ini menandakan bahwa lelaki tak
suka wanita bekerja lebih berat atau sukses daripada dirinya. Lalu, bukankah
ini berarti wanita tidak bisa bebas berekspresi seperti halnya yang telah di
perjuangkan Kartini ? Ya, wanita tak bisa disalahkan begitu saja dan lelakipun
juga tak boleh mengambil keputusan dengan cara berselingkuh.
Dimana ada asap pasti
ada api. Wanita memilih untuk bekerja supaya penghasilan meningkat dan
kebutuhan tercukupi. Seharusnya lelaki dapat berkaca dari sang istri.
Mengevaluasi seperti apakah ia selama menjadi kepala rumah tangga. Merasa
tersaingi, itu berarti lelaki tak bisa memahami makna dari perjuangan kartini.
Seorang istri juga berhak berekspresi untuk mencari pekerjaan, mengasah
kemampuannya. Namun juga tak lupa untuk melakukan kewajiban pada rumah tangga.
Lelaki seharusnya bisa ikut mendorong usaha yang dilakukan wanita dan juga
mengawasinya agar tak melebihi batas. Selain itu kedua belah pihak juga harus
bisa saling mendukung dan memberikan kepercayaan. Perselingkuhan merupakan hal
yang sangat tak terpuji. Selain perasaan yang tersakiti, kebebasan wanita atau
seorang istripun juga menjadi sia-sia.
Di era millenial ini,
dalam menjalin rumah tangga tentu harus berhati-hati dan memperhatikan banyak
hal. Selain itu, kedua belah pihak harus memiliki sikap saling mendukung dan
menjaga kepercayaan. Jika kasus pelakor terus menerus dilakukan, banyak wanita
yang kehilangan kebebasannya. Dan itu berarti Kartini zaman kini belum merdeka.
Comments
Post a Comment