Review Psikologi Komunikasi “ Digital Deception “ - Wike Widyaswara Ilkom Undip
Di zaman modern ini telah meluas
salah satu fenomena yaitu penipuan. Tidak jarang, penipuan terjadi satu sampai
dua kali setiap hari. Mulai dari masalah sepele hingga serius, dan peniupan
antar teman, keluarga ataupun rekan kerja serta dunia politik . Munculnya kasus
penipuan juga bersamaan dengan munculnya kemajuan teknologi informasi dan
komunikasi. Teknologi memudahkan manusia untuk berinteraksi dengan siapa saja
dan mengakses segala hal yang ada di dunia. Yang menjadi pertanyaan adalah
bagaimana internet dapat menimbulkan penipuan dengan adanya manipulasi
identitas? Lalu, apakah kita selalu berbohong melalu media dalam sehari-hari ? serta
faktor-faktor apa yang dapat mempengaruhi kita untuk mengidentifikasi penipuan
? berikut ringkasan mengenai penipuan yang terjadi dalam kehidupan kita melalui
media.
Tipuan Digital
Tipuan digital merupakan kontrol
informasi yang disengaja dalam pesan untuk menciptakan kepercayaan palsu
terhadap pesan. Penipuan digital berupaya untuk menyesatkan orang lain dalam
menerima pesan. Buller dan Burgoon (1996) mengatakan pesan yang disampaikan
secara sadar oleh pengirim untuk mendorong keyakinan atau kesimpulan salah dari
penerima pesan. Penipuan teknologi memerlukan media selain tatap muka atau
dapat dikatakan penipuan ini menggunakan media teknologi komunikasi seperti
telepon, Email, Instant Messaging, chatrooms, newsgroup, weblog, listservs,
multiplayer online videogame dll.
Ada dua tipe penipuan digital, yaitu :
1.
Berbasis identitas
Penipuan digital dilakukan untuk
memanipulasi informasi identitas seseorang atau organisasi seperti berupa
tampilan. Contohnya seseorang membuat akun facebook dengan menggunakan foto
profil bukan wajah aslinya untuk mencari jodoh
2.
Berbasis pesan
Penipuan terjadi dalam komunikasi antara dua
orang atau lebih. Penipuan ini berusaha memanipulasi informasi atau pesan yang
diberikan. Contoh ketika seseorang akan menghadiri rapat ia meminta maaf harus
terlambat karena ia terjebak macet. Kenyataannya, seseorang tersebut masih
bersiap diri di rumah.
Dalam model penipuan biologi (misalnya,
Zahavi, 1993), Donath membedakan antara sinyal penilaian dan sinyal
konvensional. Sinyal penilaian adalah hal yang berhubungan langsung dengan
karakteristik contohnya seperti foto profil yang menunjukkan wanita/lelaki.
Lalu sinyal konvensional adalah informasi yang dipertukarkan dalam pesan
seperti alamat rumah, nomor telfon, pendidikan dll. Secara online, sinyal
konvensional menjadi target utama dalam penipuan berbasis identitas. Dengan
menggunakan online kita dapat menyembunyikan identitas diri, menggunakan nama
samaran ataupun melindungi identitas seseorang. Penipuan secara online juga
dapat memicu perkelahian di masyarakat dan juga manupulasi kelompok-kelompok
sosial.
Menurut Whitty dan rekan-rekannya
(Whitty, 2002; Whitty & Gavin, 2001) mengemukakan bahwa gagasan untuk
melindungi identitas seseorang penting bagi banyak orang untuk berinteraksi di
ruang online seperti chat room. Kita ketahui bahwa penggunaan dalam ruang
online juga memerlukan perlindungan identitas agar tak terjadi hal-hal yang tak
diinginkan. Namun usaha dalam melindungi identitas ini justru dianggap sebagai
sebuah penipuan. Contohnya ketika seorang wanita berusaha menyembunyikan
identitasnya di online, hal tersebut dilakukan guna menghindari adanya
pelecehan.
Semakin berkembangnya internet
semakin luas ruang bagi manusia untuk bertukar informasi, ataupun berkomunikasi
serta berbisnis. Media online menjadi tempat untuk mendapatkan pendapatan
dengan melakukan bisnis online dan transaksi online. Bisnis merebah secara
online, begitu pula kriminalisasi bisnis secara online juga meningkat. Pusat Pengaduan
Penipuan Internet (IFCC, 2003) melaporkan hampir lima puluh ribu insiden
penipuan secara online terjadi. Contohnya seperti barang yang ketika dikirim
cacat, barang yang tak kunjung datang, dan pelarian uang.
Grazioli dan Jarvenpaa (2003a, 2003b) telah mengidentifikasi
tujuh tipuan umum. Tiga taktik pertama berkaitan dengan mengaburkan sifat
barang
1) Masking - menghilangkan informasi penting mengenai item
2) Memukau - mengaburkan informasi penting mengenai item (Uji
coba gratis)
3) Memikat - mengalihkan perhatian target dari biaya produk(
Menawarkan produk gratis))
Keempat jenis taktik penipuan lainnya melibatkan manipulasi
informasi
1) Meniru - Memodifikasi transaksi sehingga tampak
2) Menemukan - membuat informasi tentang transaksi tersebut
3) Relabeling - menggambarkan transaksi
4) Bermain ganda - meyakinkan pengguna bahwa dia memanfaatkan
si penipu
Internet merupakan ruang yang
fleksibel untuk melakukan sebuah penipuan, sebab akan sulit untuk
mengidentifikasi pengguna atau kasus penipuan tersebut. Peluang dari internet
untuk melakukan penipuan yaitu si penipu tidak perlu bertatap muka secara
langsung, atau contoh saja penipu bisa memakai identitas / foto palsu sehingga
korban tidak tau yang sebenarnya.
Banyak spekulasi yang menyatakan
bahwa komunikasi berbasis internet mudah menghasilkan penipuan. Contohnya
dengan chat melalui Line, kita tidak perlu khawatir untuk memberikan
jawaban. Ketika kita berfikir, lawan
bicara tidak akan tahu ekspresi kita apakah kita berbohong atau jujur. Pendekatan
teoritis terhadap efek media menunjukkan beberapa kemungkinan cara media dapat
mempengaruhi perilaku berbohong.
Teori kekayaan media(Daft &
Lengel, 1986; Daft, Lengel, & Trevino, 1987), yaitu teori yang menyatakan bahwa pengguna
akan lebih memilih media kaya (bertatap muka) karena komunikasi bisa dilakukan
secara dua arah. Dengan bertatap muka secara langsung, seseorang akan sulit
untuk berbohong karena berbohong akan menimbulkan rasa tidak nyaman. Maka dari
itu pengguna harus memilih media kurang kaya (media online seperti email) untuk
menjaga jarak sosial antara pengguna yang ingin berbohong dengan target. Target
tidak akan melihat langsung ekspresi pengguna ketika berargumen. Contohnya
sperti pesan instan, telefon, chat media sosial dll.
Tiga fitur penting untuk tindakan
1.
Sinkronisitas medium (yaitu, sejauh mana pesan
dipertukarkan seketika dan secara real-time)
2.
Ketepatan waktu medium (yaitu, sejauh mana
interaksi didokumentasikan secara otomatis), dan
3.
Apakah pembicara dan pendengarnya
didistribusikan atau tidak, mereka tidak berbagi ruang fisik yang sama
Teknologi komunikasi saat ini
benar-benar memudahkan orang untuk memanipulasi informasi. Contoh saat telfon,
pengguna dapat memutar suara sedang dikantor padahal pengguna sedang di kamar
dan bermalas-malasan. Atau ketika seorang boss menanyakan karyawannya tentang
pekerjaan, si karyawan bisa saja mengatakan perkejaan sudah tahap 50%,
kenyataannya belum sama sekali dikerjakan. Dengan menipu seseorang bisa
terhindar dari adanya perdebatan dan dapat menenangkan pikiran si lawan bicara.
Contohnya sepasang kekasih yang berjarak jauh. Si lelaki dengan mudahnya akan
mengatakan setia lewati telefon atau media lainnya, namun kenyataannya si
lelaki pergi dengan wanita lain. Jenis penipuan tidak homogen, tetapi meliputi
apa yang sedang dilakukan, perasaan si pengguna yang sesungguhnya, fakta si
pengguna maupun penjelasan.
Dalam dua penelitian, Carlson dan
George (2004; George & Carlson, 2005) memberikan berbagai skenario kepada
manajer bisnis yang menggambarkan situasi di mana mereka diharuskan untuk
berbohong. Hasilya adalah peserta cenderung untuk memilih media sinkron tanpa
meninggalkan catatan. Bertatap muka lebih dipilih untuk melakukan penipuan.
Apakah bahasa kita berbeda saat
mengungkapkan kebohongan dibandingkan megungkapkan kebenaran di media. Sebagai
contoh, dalam sebuah penelitian yang menguji pertukaran berbasis teks asinkron,
Zhou dkk. (2004) menemukan bahwa pembohong lebih sering menggunakan banyak
kata, ekspresif dan informal. sedangkan sinkron penggunaan katanya lebih
sedikit.
Asumsi dasar yang mendasari model
ini, yang berasal dari Teori Penipuan Interperonal, adalah bahwa penipuan
adalah tindakan yang termasuk dalam bagian proses komunikasi interaktif yang
terus berlanjut
Kesimpulannya adalah efek
teknologi yang semakin canggih membuat kita mudah untuk berinteraksi dan
melakukan segala hal sampai berbisnis. Kecanggihan dan kemudahan ini
menimbulkan atau mendorong seseorang untuk melakukan penipuan demi keuntungan
individu atau organisasi. Tak jarang penipuan dilakukan karena adanya rasa
tidak percaya dalam diri pengguna, contoh ketika ingin mencari teman ia tak
percaya dengan penampilannya, akhirnya ia memalsukan profilnya demi mendapat
teman. Atau juga penipuan dilakukan dengan dasar mencari keuntungan seperti
berjualan online, ketika uang sudah terbayar barang tidak dikirim dam pemilik
akan menghilang. Atau juga kriminal, orang akan berusaha mengajak kencan pada
akhirnya si pengguna di aniaya, hanya untuk memuaskan nafsu.
Ruang yang terbuka mudahnya menyembunyikan identitas
mendorong seseorang untuk memanipulasi informasi. Dan penipuan secara digital
tak mudah untuk didentifikasi.
Comments
Post a Comment